Thursday, March 8, 2012

materi biologi

      I.            Kompetensi dasar 3.5
Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi manusia dan hewan (misalnya ikan dan serangga)
   II.            Indikator
III.            Tujuan
Siswa dapat :
1.       Mengenal bau amonia dari urine
2.       Mengetahui kandungan klor dari urine
3.       Mengetahui ada tidak adanya glukosa dalam urine
4.       Mengetahui ada tidak adanya protein dalam urine
IV.            Alat dan Bahan :         
-          Tabung reaksidan Rak tabung reaksi
                              

-          Penjepit tabung reaksi                                        - Pembakar spiritus
                   




 -Korek api                                                                     -Urine
                 

-          Larutan perak nitrat                                                                 -Fehlin A dan Fehlin B
                           

-          NaOH                                                                               -CuSO4
                            

   V.            Cara kerja
1.      Masukkan sekitar 1 ml urine ke dalam tabung reaksi
2.      Panaskan dengan lampu spiritus
3.      Bagaimana baunya?
Ternyata urine yang telah dipanaskan tersebut mengandung bau amonia
                Kegiatan II. Mengetahui kandungan klor dalam urine
1.       Masukkan sekitar 2 ml urine ke dalam tabung reaksi
2.       Tambahkan 5 tetes AgNO3 (perak nitrat) 5%
3.       Apakah yang terjadi? Mengapa demikian?
Urine tersebut berwarna putih keruh,  dan ditemukan endapan
                 Kegiatan III. Uji glukosa
1.       Masukkan sekitar 2 ml urine ke dalam tabung reaksi
2.       Tambahkan masing-masing 5 tetes Fehling A dan Fehling B
3.       Panaskan di atas pembakar spiritus, catat apakah terjadi perubahan warna
4.       Apa kesimpulan anda tentang urine yang anda selidiki?
Dari hasil pengamatan, urine tersebut berubah warna menjadi hijau tua, yang artinya urine tersebut tidak mengandung glukosa, karena dalam uji glukosa, warna yang dihasilkan adalah warna merah bata
                 Kegiatan IV. Uji protein
1.       Masukkan sekitar 2 ml urine ke dalam tabung reaksi
       
2.       Tambahkan masing-masing 5 tetes NaOH 10% dan CuSO4 1%, kocok, apakah terjadi perubahan warna?
       
3.       Kesimpulan apa yang anda ambil dari urine yang anda selidiki?
Dari hasil pengamatan, urine tersebut berubah warna menjadi biru tua, yang artinya urine tersebut tidak mengandung protein, karena dalam uji glukosa, warna yang dihasilkan adalah warna ungu
                   Dari hasil kegiatan yang anda lakukan di atas, bagaimana kesimpulan tentang
a)      Kandungan urine
Amonia dan klor
b)      Kelainan yang dapat diketahui dari hasil pemeriksaan urine
Tidak ada
c)       Pada musim dingin, urine yang dikeluarkan jauh lebih banyak dibanding padamusim panas. Jelaskan hubungannya!
Karena, ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan mengurangi jumlah darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju organ tubuh, di antaranya ginjal. Apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya samakin banyak, maka pengeluaran air kencing pun banyak.
d)      Seandainya dalam urine seseorang ditemukan adanya glukosa, pada bagian mana dalam ginjal terjadi gangguan, hubungkan dengan peran hormon insulin !


















Materi dasar
Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat-zat sisa metabolisme yang sudah tidak digunakan oleh tubuh. Salah satu bentuk ekskresi adalah buang air kecil, hasil buangan itu antara lain berupa urin. Akan tetapi, sebenarnya hasil buangan tidak hanya berupa urin saja. Zat buangan lainnya dapat berupa keringat, gas karbon dioksida, zat warna empedu.
Zat-zat sisa metabolisme merupakan zat sampah yang harus dibuang dari tubuh. Zat-zat itu antara lain:
1. urin dikeluarkan oleh ginjal,
2. keringat dikeluarkan oleh kelenjar keringat melalui kulit,
3. karbon dioksida dikeluarkan oleh paru-paru, dan
4. empedu dikeluarkan oleh hati.


v Struktur ginjal:
Setiap ginjal terdiri atas bagian luar adalah korteks renalis dan bagian dalam adalah medula renalis. Pada bagian korteks dan medula terdapatribuan nefron. Nefron ini adalah unit operasional ginjal. Komponen yang tampak berupa tubula yang disebut tubula neprik (nephric tubule), bagian ujung tubula ini meluas disebut kapsula neprik (nephric capsule) yang terdiri atas 2 lapisan. Pada akhir tubula neprik berhubungan dengan duktus koleduktus (collectingduct), yang mana duktus koleduktus ini menampung keluaran dari beberapa tubula nefrik. Kumpulan beberapa ductus koleductus ini bersatu membentuk ureter. Saluran ini membawa urine menuju kantong urinaria. Ujung akhir saluran ini adalah uretra.

v Fungsi ginjal:
1)      Mengekskresikan zat-zat buangan (waste product) seperti urea, asam urat,  kreatinin, kreatin, dan lain-lain.
2)      Menjaga keseimbangan air dengan cara:
a. Air dibuang bila pemasukan banyak.
b. Mengurangi pengeluaran bila pemasukan sedikit.
3) Menjaga tekanan osmosis dengan cara:
a. Mengatur ekskresi garam-garam mineral yang berlebihan.
b. Membatasi ekskresi garam bila pemasukan sedikit.
4) Menjaga pH darah dan cairan tubuh yang lainnya.
v Ada 3 macam proses yang terjadi di dalam ginjal, yaitu:
1) Proses filtrasi
Pada proses ini semua zat-zat yang terdapat di dalam darah yang mampu menembus dinding kapiler juga mampu menembus glomerulus dan kapsula Bowman. Pada filtrasi kekuatan sangat penting. Dengan tekanan yang kuat ini setiap komponen darah bisa melewati glomerulus dan dinding kapsula sehingga sampai pada rongga lapis atas tubula neprik. Dua komponen darah yang tidak bisa melewati filter ini, yaitu sel darah dan plasma protein. Jadi komponen-komponen atau filtrat yang demikian disebut dengan urine kapsular (urine primer). Urine primer ini selanjutnya menuju ke bagian tubulus nefron (tubulus neprik) dan proses reabsorpsi mulai berlangsung.

2) Proses reabsorpsi
Urin primer dari glomerulus selanjutnya dialirkan menuju tubulus proksimal. Di sini, urin primer ini mengalami penyerapan kembali zat-zat yang masih digunakan oleh tubuh, antara lain glukosa, asam amino, dan air. Zat-zat yang diserap kembali akan dikembalikan ke dalam darah melewati kapiler darah di sekitar tubulus, juga terjadi penyerapan natrium di lengkung Henle, sisanya akan membentuk urin sekunder. Di dalam urin sekunder tidak terdapat zat yang berguna. Di sini ditemukan kadar urea yang tinggi.

3)Proses augmentasi
Urin sekunder yang telah terbentuk kemudian dialirkan ke dalam tubulus distal. Di sini terjadi proses augmentasi, yaitu penyerapan air dan penambahan zat-zat seperti ion H+, K+, kreatinin dan urea dalam urin sehingga urin hanya berisi zat-zat yang benar-benar sudah tidak berguna lagi. Melalui proses augmentasi inilah akan terbentuk urin yang sesungguhnya. Urin ini akan dikumpulkan melalui pembuluh pengumpul ke rongga ginjal kemudian dialirkan ke kandung kencing atau vesika urinaria, melalui saluran ureter. Di dalam kandung kencing, urin mengalami penampungan sementara di sana. Setelah itu, urin akan dikeluarkan melewati saluran uretra menuju lubang seni.

v Komposisi Urin
Urin merupakan zat buangan sisa  metabolisme. Zat-zat yang terkandung di dalam urin antara lain seperti berikut :
1) Ureum
Ureum merupakan hasil akhir dari metabolisme protein. Ureum berasal asam amino yang tidak mengandung asam amoniak lagi, karena amoniaknya sudah dipindahkan ke hati. Ureum disekresikan rata-rata 30 gram per hari.
2) Kreatin
Kreatin merupakan zat hasil buangan dari otot.
3) Asam urat
Asam urat memiliki kadar normal dalam darah kurang lebih 2–3 mg setiap 100 cc. Dari jumlah asam urat di atas sekitar 1,5–2 mg akan dikeluarkan melalui urin setiap hari.
4) Natrium klorida (garam dapur)
Garam seperti natrium dan kalium klorida masuk ke dalam tubuh melalui makanan, untuk mengimbangi jumlah yang masuk melalui mulut maka zat ini akan dikeluarkan melalui urin.





v Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Urin
Urin terbentuk di dalam tubuh untuk membuang sisa-sisa zat metabolisme yang tidak berguna. Namun demikian, pembentukan urin sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik bagian eksternal maupun internal, antara lain :
1)      Jumlah air yang diminum
Apabila banyak air yang diminum, akibatnya penyerapan air ke dalam darah sedikit, sehingga pembuangan air jumlahnya lebih banyak dan air kencing akan terlihat bening dan encer. Sebaliknya apabila sedikit air yang diminum, akibatnya penyerapan air ke dalam darah akan banyak sehingga pembuangan air sedikit dan air kencing berwarna lebih kuning
2)      Jumlah garam yang dikeluarkan dari darah
Supaya tekanan osmotik tetap, semakin banyak konsumsi garam maka pengeluaran urin semakin banyak.
3)      Konsentrasi hormon insulin
Jika konsentrasi insulin rendah, orang akan sering mengeluarkan urin. Kasus ini terjadi pada orang yang menderita kencing manis.
4)      Hormon antidiuretik (ADH)
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian belakang. Jika darah sedikit mengandung air, maka ADH akan banyak disekresikan ke dalam ginjal, akibatnya penyerapan air meningkat sehingga urin yang terjadi pekat dan jumlahnya sedikit.
5)      Suhu lingkungan
Ketika suhu sekitar dingin, maka tubuh akan berusaha untuk menjaga suhunya dengan mengurangi jumlah darah yang mengalir ke kulit sehingga darah akan lebih banyak yang menuju organ tubuh, di antaranya ginjal. Apabila darah yang menuju ginjal jumlahnya samakin banyak, maka pengeluaran air kencing pun banyak.
6)      Gejolak emosi dan stress
Jika seseorang mengalami stress, biasanya tekanan darahnya akan meningkat sehingga banyak darah yang menuju ginjal. Selain itu, pada saat orang berada dalam kondisi emosi, maka kandung kemih akan berkontraksi. Dengan demikian, maka timbullah hasrat ingin buang air kecil.
7)      Minuman alkohol dan kafein
Alkohol dapat menghambat pembentukan hormon antidiuretika. Coba ingat kembali fungsi hormon ini! Seseorang yang banyak minum alkohol dan kafein, maka jumlah air kencingnya akan meningkat.

1)    Diabetes Melitus
Akibat berkurangnya hormon insulin, maka darah akan banyak mengandung glukosa. Glukosa dalam darah yang berlebihan tidak semuanya mampu direabsorbsi sehingga masih ikut bersama urine.
2)      Diabetes Insipidus
Penyakit ini disebabkan karena jumlah ADH dalam tubuh seseorang menurun. Penderita penyakit ini akan sering buang air kecil, bisa mencapai 20 - 30 kali lebih banyak dari orang sehat.
3)      Batu Ginjal
Batu ginjal terbentuk dari kalsium dan asam urat. Pemicu penyakit ini antara lain karena sedikit minum dan sering menahan kencing, sehingga zat tersebut akan mengendap. Selain itu, penyakit batu ginjal juga dapat disebabkan akibat kelainan dalam metabolisme tubuh. Batu ginjal ini biasanya berada di dalam ginjal atau kandung kencing.
4)      Albuminuria
Penyakit ini disebabkan akibat adanya kerusakan alat-alat filtrasi pada ginjal, sehingga urin masih mengandung senyawa albumin atau protein.
5)      Anuria
Anuria merupakan penyakit akibatadanya kerusakan pada glomerulus.
6)      Nefritis
Penyakit nefritis disebabkan adanya infeksi bakteri tertentu pada glomerulus, akibatnya glomerulus akan mengalami gangguan. Pada keadaan ini, filtrat banyak mengandung protein, sehingga urin masih mengandung protein. Selain itu, ureum yangseharusnya terbuang, akan masuk kembali ke dalam darah dan akibatnya penyerapan air terganggu. Akhirnya, air akan tertimbun pada kaki sehingga menyebabkan kaki membengkak yang disebut edema. Apabila terjadi kelainan pada ginjal yang menyebabkan disfungsi ginjal atau gagal ginjal maka seseorang harus menjalani cangkok ginjal atau melakukan cuci darah di samping merupakan upaya untuk mengganti fungsi ginjal.





































0 komentar

Post a Comment

komentar anda sangat berharga