Thursday, November 29, 2012

CERPEN KISAH KARANG karya Anton Septian


Perempuan itu bukan anak kandung sepasang suami istri itu. Dahulu sang suami menemukannya di dalam keranjang rotan di tengah laut sewaktu subuh sepulang melaut. Menurutnya, sebelum ia menemukan bayi itu, ia lebih dulu diadang oleh sebuah badai jinak. Padahal, tak pernah sekalipun ada badai bermain-main di sekitar pulau kami. Suami istri yang tak mempunyai keturunan itu amat gembira menerima karunia seorang bayi jelita dari dalam lautan.
Dan anton telah mencintai perempuan itu  sejak masih berada didalam kandungan ibunya. Ketika kedua orang tua mereka saling bercengkerama dan saling memamerkan si bayi, dia berjanji menikahinya kelak setelah cukup umur. Lagi pula, kedua orang tua mereka telah menjodohkannya pada masa itu.
Mereka berdua tumbuh dibesarkan angin laut, deburan ombak. Waktu mengantarkan mereka kemanapun anton atau ia melangkah, selalu dijajari oleh langkah salah seorangnya. Pada setiap purnama, pada saat pesta pantai digelar, mereka ikut larut dalam suka bersama penduduk pulau.
Suasana pulau mereka yang dipenuhi kedai-kedai sepanjang pantai, kepulan asap dari dapu penduduk yang tengah membakar ikan. Setiap awal tahun, orang yang berkunjung di pulau tersebut akan disuguhi pesta pantai yang meriah, lebih megah ketimbang pesta pantai yang digelar setiap purnama. Setelah upacara menyambut tahun baru, para nelayan menyuguhkan kepala kerbau ke tengah laut berharap karunia dewata melimpah pada tahun yang akan dijelang. Malamnya, doa-doa mengapung dilangit pulau. Tak ada kegaduhan apapun, selain bunyi gamelan dan puja-puja dewata.
Bukan hanya itu, tambang emas adalah bukti karunia dewata. Orang-orang diseberang datang mendirikan tambang di teluk tak jauh dari perkampungan. Awalnya,penduduk mensyukuri adanya tambang itu, berharap tambang itu membawa kesejahteraan bagi mereka. Namun, tak lama sejak tambang berdiri, penghasilan mereka justru merosot. ikan-ikan seperti enggan mendekati perahu nelayan sehingga, kerap pulang membawa jaring saja. Kami mengira hati dewa sedang muram. Kami lantas menyembeli sekor kerbau dan melarungkan kepalanya ke laut berharap dewa kembali riang.
Setelah beberapa bulan tambang beroperasi, sebuah penyakit aneh menyerang beberapa penduduk. Tabib di pulau tak sanggup menyembuhkan penyakit aneh itu . akhirnya kami membawa orang-orag tersebut menggunakan perahu  motor ke rumah sakit. Kata dokter, mereka telah keracunan makanan. Barulah kami sadari, ikan-ikan yang kami makan telah menyantap limbah racun dari tambang. Pesta pantai setiap purnama tak lagi diadakan, pulau seakan kehilangan cerianya.
Saat kami menyadari tambang telah mencemari laut, salah seorang tetua meminta tambang ditutup. Dengan alasan membawa petaka bagi mereka. Permohonan itu ditolak perusahaan. Ia bahkan di usir di pintu masuk tambang oleh petugas keamanan. Beberapa hari kemudian, penduduk desa kembali mendatangi tambang dengan tuntutan yang sama. Petugas keamanan lagi-lagi mengusir penduduk yang datang, sementara itu semakin merajalela kesialan bagi penduduk pulau. Ikan –ikan semakin berkurang dan orang yang  terkena penyakit semakin bertambah bahkan menyebabkan kematian.   Seluruh penduduk, termasuk anton dan perempuannya dilanda kecemasan. Malam itu pula digelar upacara mendadak dan mengumumkan bahwa seluruh  penduduk  pulau harus datang ketambang untuk menuntutnya.
Keesokan harinya, seluruh penduduk tumpah didepan pintu masuk tambang. Pihak perusahaan telah menyiapkan puluhan petugas keamanan dibantu aparat berbaris didepan tambang.  Mereka terus berteriak agar tambang ditutup sambil mencoba menembus barisan penghadang, tapi segera dipukul mundur.  Seorang penduduk memulai melempari mereka dengan batu, namun berhenti setelah mendengar suara tembakan beberapa kali. Anton, perempuannya, dan penduduk lain merunduk. Suasana diam seketika.
Anton melirik perempuannya, tiba-tiba ia melihat sinar aneh dari matanya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dia lantas menggenggam tangannya begitu erat  takut  sesuatu menimpa dirinya. Tiba-tiba saat perhatian anton teralihkan oleh suara petugas, perempuannya berlari dan melepaskan genggaman anton menuju ke  arah petugas. Perempuan itu mencoba menerjang para penghadang, empat suara tembakan yang anton dengar bersarang ditubuh perempuannya. Pikiran anton kosong meraung keras,sangat keras karena kesakitan. Namun, tak ada yang berani maju, meski amarah menyesak di dada.
Perempuan itu rebah bersamaan pulau yang menggelap, serta  hujan turun dengan deras. Satu persatu penduduk membubarkan diri, tinggal anton yang menangis diatas tubuh perempuannya dengan tangis yang tak reda sambil membawa tubuh perempuannya pulang.
Malamnya, sewaktu penduduk merenungkan peristiwa tadi pagi, anton ke pantai untuk menenangkan diri setelah tubuh perempuannya dia benamkan ke laut, tempat asalnya. Beberapa saat kemudian, hujan deras sekali angin bertiup semakin kencang, ombak besar sili berganti. Suasana semakin mencekam sebab petir dan guntur ikut berhamburan.
Dari tengah laut, ombak bergulung-gulung setinggi dua kali pohon kelapa bergerak ke arah teluk ke arah tambang itu. Anton tidak beranjak dari sana. Ia terpukau. Sesuatu seakan-akan menahannya. Dari kegelapan muncul sosok tubuh yang ia sangat kenali, perempuannya. Sekilas perempuannya melirik sambil tersenyum. Sempat anton melihat kedua tangannya terangkat seakan memberi perintah untuk bergerak pada ombak yang datang bersamanya. Namun, ia menghilang setelah terjangan ombak yang meratakan tambang itu dengan tanah.
Seketika suasana tenang, tak ada angin, topan, badai, ombak. Saat itulah anton melihat kembali perempuannya berjalan ke arahnya. Anton melihat wajahnya tetap cantik seperti sebelum kematiannya. Anton lantas mengulur kedua tangan ke arah perempuannya. Sebelum tangan mereka bersentuhan, tubuh perempuan itu memudar dan sirna. Anton hanya mematung tak kuasa mencegah perempuannya pergi.
Demikianlah anton memilih menjadi karang di pantai tersebut berharap, suatu saat badai datang lagi dan membawa perempuannya. Anton akan menunggu hingga masa entah kapan sebab perempuannya pasti akan datang lagi.

1 komentar:

komentar anda sangat berharga