Friday, November 30, 2012

kisah nyata yang dituangkan dalam sebuah cerpen



MENDUNG TAK BERARTI HUJAN
                “Tuk tik tak tik tuk..” suara sepatuku terdengar nyaring, “dag dig dug” suara jantungku berdebar kencang disertai sesekali isak tangisku. Jam sudah menunjukkan pukul 07:15 dan baru kali ini ku mengalami hal seperti ini. Ku berlari disertai keringat dingin yang membasahi tubuhku dan sudah kuduga, pelajaran sudah dimulai. Dengan wajah ketakutan dan melemas ku mengetuk pintu kelas dan berusaha menghadap kepada guru Bahasa Indonesia yang sedang mengajar. Tapi untunglah, guruku memaklumi keterlambatanku dan akhirnya ku diperintahkan untuk segera duduk. Setelah semua mata tertuju padaku, kutenangkan diriku dan berusaha mengikuti pelajaran yang diberikan.

            “teng..teng..teng..” bunyi bel nyaring terdengar ditelinga seluruh murid SD Harapan Bangsa, seperti biasa ketika bel berbunyi keheningan dalam kelas berubah menjadi suasana layaknya pasar ditambah lagi teriakan disertai tepukan tangan dari geng 3 sekawan yang menambah meriahnya suasana.
            Seperti biasanya aku dan teman-temanku pulang bersama.
            “Din, kok tadi kamu terlambat sih..??? nggak biasanya seperti itu…” tanya Ewi.
            “Nggak tau niiiiihh…aku telat bangunnya..hehehehe” kataku.
            “Hahahhaha…makanya jangan larut malam tidurnya doong, kaya aku” kata Ewi sambil menepuk dadanya.
            “Besok jangan telat lagii yahh….” Sambungnya.
            “Laahhh…besok kan hari minggu” kataku dengan heran.
            “Oh iya yahh..heheheh, aku lupa. Biasa semangat 45” kata Ewi.
            “Hahahahahahha….”. ku hanya bisa tertawa mendengar kata temanku yang lucu itu.
            “Yaudah..aku sudah sampai nih..yuk mampir ke rumahku” pinta Ewi
            “ Iyaa..makasih yah, aku langsung pulang ajjah” tolakku.
Sesampaiku di rumah, kulihat orang tuaku sedang sibuk mempersiapkan makan siang.
 “Assalamu alaikum…” sapaku.
“Wa’alaikum salam” jawab orang tuaku nyaris hampir bersamaan.
Langsung ku raih tangan kedua orang tuaku dan menyalami tangannya, kemudian bertanya “Maaah..Andi mana..???
“Itu sanaah..dia lagi main” sambil menunjuk ke arah dimana adikku sedang bermain sambil tersenyum-senyum di depan televisi dan sibuk dengan mainannya. Aku pun menuju ke kamarku kemudian kulepaskan tas beserta baju seragam SD ku lalu berlari menuju ke tempat dimana papahku sedang membakar ikan.
“Paaapaaaaaahhhh…” teriakku sambil berlari.
“Ehhh..Dinda,,, sini nak..” panggil papahku.
Ku mendekat ke arah papahku dan mencoba membantunya meski sebenarnya ku tidak tau apa yang harus saya lakukan. Beberapa menit kemudian,
“Ayoooo semuanyaaa…ikannya sudah matang” kata papahku.
“Horeeeeee…..” teriakku sambil berlari kegirangan diikuti dengan jingkratan-jingkratan adikku yang menambah suasana sekaligus membuatku lupa akan hal menyedihkan dan memalukan tadi pagi.
Seperti biasa setelah makan siang, aku dan mamahku merapikan meja makan sedangkan adikku melanjutkan permainannya bersama papahku. Setelah membantu mamah, aku pun menuju ke kamarku untuk membaca majalah kesayanganku “Majalah Bobo” edisi terbaru yang dibelikan oleh papahku.
Waktu terus berjalan, entah kenapa seiring kutatapnya ikan-ikan yang ada dalam aquarium,susasana pun semakin berubah. Entah apa yang berubah, aku pun tak tahu. Mungkin karena pemikiranku yang masih kekanak-kanakan. Yang ku tahu hanyalah hubungan kedua orang tuaku yang semakin hari semakin renggang.
            Sudah beberapa hari ini kudapati lelaki asing datang kerumahku menemui mamahku bahkan pergi bersama mamahku disaat papahku tidak ada. Dan sudah beberapa hari ini papahku pulang larut malam. Namun, ku hanya diam. Dan membiarkannya semua terjadi. Sampai suatu saat ketika mamahku pergi bersama orang asing itu, datanglah seorang tetanggaku yang biasa dipanggil Bu Ani. Dia datang kepadaku dan bertanya.
            “Dinda..mamah kamu kemana ??”
            “Nggak tauu…tadi dia pergi bersama seorang lelaki” jawabku polos.
            “Mmmm..Dinda, tante kasih tau yah. Sudah beberapa hari init ante liat kamu dan adikmu ditinggal berdua. Perbuatan mamahmu ini tidak boleh dibiarkan, sebaiknya dinda jelasin ke papah Dinda agar mereka bisa menyelesaikannya” jelas tante Ani panjang lebar.
            “Iyaa tante…” balasku.
“Yasudah, tante pulang dulu yah sayang. Kamu baik-baik disini, jaga adikmu. Assalamu alaikum” pamit tante Ani.
“Wa’alaikum salam” balasku.
Setelah Bu Ani pergi, ku merenungkan penjelasan Bu Ani. Sungguh ku tek mengerti dengan apa yang Bu ani katakana, tetapi setelah ku piker matang-matang ada betulnya juga. Ini demi kebaikan hubungan orang tuaku. Disaat ku termenung papahku datang dan adikku Andi berlari menjemput kedatangan papahku
“paapaaaaaahhhhhh pulaaaaanggggg…” teriak Andi.
“Dinda, mamah kemana ??” Tanya papah kepadaku.
“Nggak tau pah..” jawabku.
“Yasudah..papah mau kerumah Om Rio niih..mau ikut tidak??” tawar papahku.
“Mauuuuuuuuuu…” jawabku dan Andi.
Setelah kami siap, kami pun berangkat denga menggunakan sepeda motor. Andi duduk di depan papahku dan aku pun duduk dibelakang papahku. Mulai dari rumah sampai ditengah perjalanan ku merasa dihantui dengan perkataan Bu Ani, entah kenapa tiba-tiba saja mulutku terbuka dan berkata
“Paaapaaaaahhhh” teriakku.
“Iyaaa.. apa dindaa??” teriak papahku pula.
“Aku mau ceritaaaaa..” teriakku kembali.
“ appaaaa..???” kata papahku sambil mengendalikan motornya.
“Sudah beberapa hari ini ada om-om datang kerumah, trus tadi mamah pergi bersama om-om itu” jelasku dengan lancar. Namun, papahku tidak menjawabnya. Entah kenapa, aku pun tak tau. Yang kuarasakan hanyalah kelegaan meskipun ada rasa takut dalam hatiku.
Disaat ku tiba dirumah Omku ke bertemu dengan sepupuku dan dengan girangnya aku dan adikku pun kemudian bermain bersama sepupuku dan dari kejauhan kulihat papahku sedang berbincang dengan seriusnya bersama Omku. Namun, permainanku lebih mengalihkan pandangan serta pemikiranku.
Beberapa minggu kemudian kuperhatikan suasana dalam keluargaku. Om-om yang biasa datang kerumahku sudah tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Kupikir keadaan keluargaku sudah pulih dan aku pun tersenyum kembali.
Beberapa hari kemudian disaat hujan turun dengan lembutnya membasahi rumahku kulihat orang tuaku sedang sibuk, entah apa yang mereka rencanakan akupun tak tahu.
“Dinda.. ayo ke mobil” ajak papahku.
“Jangan lupa Andi, adikmu” kata mamah mengingatkanku.
Dengan polosnya aku pun menuruti perintah mamah, membawa Andi yang masih berumur 4 tahun itu masuk ke mobil. Kuikuti perjalanan kedua orang tuaku sambil melihat rintik-rintik hujan lewat kaca jendela mobil papahku. Beberapa saat kemudian kurasakan mobil papahku berhenti di depan sebuah took. Krena hujan, aku pun hanya tinggal di mobil bersama Andi dan papahku.
“Dinda, Andi kalian disini saja yah….kalau kalaian ikut nanti kalian sakit” jelas mamahku.
“Iya mah…” kataku.
Beberapa menit kemudian kulihat mamahku keluar dari took tersebut dan kami pun pulang kerumah.
Disaat kami sampai di rumah, aku langsung berlari menuju kamarku untuk melepas lelah. Dan tak lama kemudian, kulihat ada beberapa orang yang dating kerumahku. Kulihat mereka bersama orang tuaku sedang sibuk menandatangani sesuatu. Namun, karena ku tak ingin ambil pusing, aku mengajak adikku bermain dan member makan ikan yang ada di aquarium.
Hari berganti hari dan bulan pun turut berganti. Kuperhatikan papahku jarang pulang kerumah dan suasana rumah pun semakin berbeda. Perubahan itu membuatku jatuh sakit. Beberapa hari kemudian papahku dating. Ku berlari dan kupeluk erat tubuhnya, begitupun dengan adikku yang tidak kalah rindunya dengan papahku.
“Papah dari mana ???, aku kangen sama papah..” kataku merengek.
“Papah sibuk sayaaang. Papahk kerja” kata papahku tersenyum.
“Ayoo masuk” kata mamahku mengajak papahku masuk ke dalam rumah.
Ku tak ingin menyia-nyiakan waktu ini. Ku peluk erat tubuh papahku dan sesekali kuminta agar papahku menggendongku. Begitupun dengan adikku, kami berdua sangat senang karena akhirnya papah pulang.
Disaat hari mulai gelap, dan suhu tubuhku mulai turun. Aku kaget dengan permintaan papahku.
“Dinda, Andi papah mau pergi dulu yah. Papah mau kerja lagi” kata papahku.
“Haaah ??? papah mau pergi lagi ???” tanyaku heran.
“iya sayaang.. papah janji kalau kerjaan papah sudah selesai. Papah akan cepat pulang” jelas papah.
“Janjii..???” kataku sambil menatap dalam mata papah.
“Janjiiiii..” kata papahku mencoba meyakinkanku sambil memelukku dan memeluk Andi erat.
Setelah itu kulihat papah pergi dengan mobilnya. Aku dan Andi beserta mamahku masuk kembali kedalam rumah untuk beristirahat.
Bulan pun berganti, sesekali papah datang kerumah, dan sampai pada suatu hari ku mendengar kabar bahwa papahku akan menikah. Ku tak tau apa maksudnya yang kutau hanyalah disetiap mamahku melihat aku dan Andi sesekali dia meneteskan air mata.
“Mamaah kenapa menangis ???” tanyaku heran
“Nggak apa-apa sayang..” jawab mamahku.
“kamu sudah makan ???” lanjut mamahku.
“sudah tadi disekolah..” kataku tersenyum kemudian berlari menuju kamar.
Keesokaan harinya, disaat ku pulang dari sekolah tiba-tiba mamahku memanggilku. Sambil menggendong Andi ia mengusap kepalaku dan berkata
“Dinda sayaaangg.. hari ini papah menikah dengan wanita lain”
Aku hanya termangu. Aku tidak tau apa itu menikah dan yang kutau saat ini papah tidak ada dirumah dan yang kesekian kalinya mamahku menangis. Ku berlari menuju kamarku, memikirkan dan bertanya apa sebetulnya yang terjadi. Karena kelelahan akhirnya akupun tertidur.
Ku ingat-ingat masa laluku, 9 tahun yang lalu. Dan baru kusadari bahwa surat yang mereka tanda tangani adalah surat perceraian dan baru kusadari dengan menikahnya papahku itu tandanya aku memiliki mamah baru. Ada rasa penyesalan dalam diriku. Kenapa waktu itu kutidak berpikir sejauh ini ?? kenapa waktu itu ku hanya membiarkan mereka ??. Namun, dalam sadarku kuberpikir kembali bahwa Allah telah menentukan kehidupan setiap hambanya. Sesuai dengan cuaca saat ini “Mendung tak Berarti Hujan”.
Yaah.. cuaca yang mendung belum memastikan bahwa akan terjadi hujan. Begitupun dengan diriku. Perceraian kedua orang tuaku belum tentu bisa mengubah hidupku menjadi tak berarti bahkan dari situlah ku bisa memetik hikmah, dan ku percaya dengan jimat “man Jadda Wa Jadda” siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses. Jika ku bersungguh-sungguh suatu saat nanti aku bisa merubah dunia dan “Setelah hujan Pasti Ada Pelangi”. Setelah hidupku yang seperti ini pasti Allah menyediakan hadiah yang menarik untukku yang tak pernah kusangka-sangka dari mana datangnya.
Setelah ku merenungi masa laluku, ku ambil gitarku dan menyanyikan sebuah lagu trend  yang berjudul “cintailah aku” karya Ari Lasso yang pernah dinyanyikan oleh penyanyi idolaku Mario Stevano Aditya
“di dalam hatimu..tlah aku temukan arti kebahagiaan
Bersama dirimu..ku merasa berarti..
Sanggupkah dirimu, untuk bertahan hingga waktu tlah berjalan
Mencintaikuuuu walau bintangku tak terang
Cintailah akuuu.. sepenuh hati
Sesungguhnya akuuuu.. tak ingin kau pergi tak kan mampu kuhadapi dunia ini..
Tiada arti semua bila kau pergi…..”
                                                                                                    Karya : Munirah A.

0 komentar

Post a Comment

komentar anda sangat berharga