Monday, January 20, 2014

"kronologi dalam sebuah tulisan"

Terdampar di kota Angin Mamiri
Sebuah perjalanan hidup memang penuh dengan lika-liku yang sudah ditakdirkan, dan digariskan oleh sang khalik. Entah apa yang ku alami telah menjadi sebuah cerita manis dan pahit yang telah menjadi suatu hal yang tetap ku syukuri saat ini. 23 November 1994, ku terlahir di dunia yang mungkin, jika saat ini orang bekaca pada kehidupan keluargaku yang begitu sederhana bahkan berada dibawah garis semestinya. Namun, inilah kehendak yang harus saya terima, terlahir dari keluarga dengan penuh harapan yang diberikan agar kelak dapat menjadi sosok yang dapat merubah  takdir yang telah tergariskan.
 Sejak kecil, aku sudah ditinggal oleh ayah yang harus menopang tegaknya tiang keluarga dan menghidupi,ku dan ibu saya. Aku masih belum tahu apa-apa saat itu, yang aku kenal hanyalah bangun, makan, bermain dan tidur. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hidup,ku. Aku mulai tersentak ketika melihat seorang temanku yang mendapat kasih sayang dari seorang ayah, berkumpul bahkan canda tawa bersama. Dan saat itu pula aku kadang bertanya-tanya kepada ibu saya “ Kapan ayah pulang?? “. Dan saking pahitnya kenangan itu, sampai saat ini masih teringat dalam benakku. Ibu hanya menjawab pertanyaan polos itu hanya dengan mengeluakan air matanya dan berkata besok ayah sudah akan pulang.
Namun, pemikiran kecil yang mendapat jawaban itu sudah cukup untuk menenangkan rasa rindu kepada ayahandaku. Teringat suatu ketika, aku mulai mendengar kabar dari nenek saya yang begitu menyayangiku bahwa ayah akan pulang dalam waktu dekat itu. Aku pun begtu senang dan bahkan aku tak mau meninggalkan emperan rumah untuk menunggu, menyambut kedatangannya. Dan saat itu ayah telah tiba dikampung halamanku, dengan membawa tas yang besar. Dari kejauhan aku mulai melihat sosok ayahku, meski telah ditinggal selama 1 tahun namun, aku masih mengingat senyum, tatapan dan sosok ayahku itu. Aku berlari menghampiri ayahku yang baru saja tiba.
Ayah langsung melepaskan tasnya dan langsung memelukku seakan tak mau melepaskannya. Ada sesuatu yang tak adil bagiku saat itu, bukan karena kasih sayang,harta, ataupun kebersamaan. Namun, aku merasa tak adil kepada waktu yang terus berjalan begitu cepat hingga, genap 1 bulan, kebersamaan itu harus terpisah lagi. Karena ayah harus kembali ketempat perantauannya. Aku tak pernah mencari tahu dimanakah ayah bekerja, yang ada hanyalah kesedihan yang terus menyelimuti setiap saat kuingat sosok ayahku itu. Ayah meninggalkanku dengan pelukan dan tangis yang tak bisa kulupakan saat itu.
Setelah beberapa bulan,  aku kembali merasakan rindu yang begit mendalam kepada ayahku. Aku mulai tak terima dengan keadaanku saat itu. Ibu pun mulai kasihan melihat tingkahku saat itu, yang tiap hari menangis ingin bertemu dengan ayah. Akhirnya, dengan kesepakatan nenek dan kakekku mereka memberikan izin kepada ibuku unutk menyusul ayah di ranah perantauannya. Aku begitu senang saat pamanku mengajakku di tempat pembelian tiket kapal laut. Dan saat hari itu tiba, dengan izin kakek, nenek, om, dan tanteku. Aku mulai meninggalkan tanah kelahiranku. Isak tangis keluarga mengiringi langkah saya dan ibu saya. Suatu kebahagiaan ketika aku mulai tiba disuatu Pelabuhan yang terletak di bagian timur pulau jawa. Dengan berdesak desakan, ibu menggendongku, tanpa sedikit merasa lelah, ia terus berjalan demi mendapatkan tempat yang pas dan nyaman diatas kapal. Namun, apa daya, langkah seoranag wanita tak sekuat dengan pria. Sangat teringat di benakku mendapat tempat dekat tambang kapal dengan dentuman angin yang begitu kencang, namun tak pernah kuhiraukan karena yang ada dalam pikiranku hanyalah bertemu ayah,ayah,ayah, dan ayah.
Da akhirnya perjalanan melelahkan 1 hari 1 malam telah terlewatkan di kapal saat itu. Dan aku merasa kasihan kepada ibu saya yang saat itu kewalahan untuk mengasuh saya dikapal. Suasana ramai, dingin dan hanya air laut biru yang dapat ditatapi, memang membuatku jenuh saat itu di umur,ku yang baru beranjak 2 tahun.
Setelah tiba di Pelabuhan dengan selamat. Saya berpikir akhirnya saya akan bertemu dengan ayah, namun itu semua salah... ternyata saya, ibu dan pamanku harus menempuh perjalanan lagi. Menuju sebuah kota yang terkenal dengan keunikannya yaitu “ Kota Kalong”. Saat tiba dikediaman perantauan ayah, ayahku terkejut, karena memang ayah tak tahu kabar akan kedatangan saya dan ibu saya.
Disinilah ku mulai kisah hidup dan goresan tinta emas yang kualami. Ayahku dan pamanku memiliki sebuah warung yang cukup sukses kala itu. Akhirnya berkat kesuksesan tersebut, ayah mulai merajut asa, ditambahnya kedatanganku dan ibu,ku menambah semangat ayah dalam bekerja.
Inilah hidup, inilah roda kehidupan yang terus berputar. Kehidupan,ku kembali di uji, setelah berada dipuncak akhirnya, nasib berputar dan membawaku pada dasar roda kembali. Masalah yang terjadi dalam keluarga, membuat usaha yang telah lama kokoh itu akhirnya harus retak. Dan kini ayah mulai membangun usahanya sendiri, begitupun dengan paman, dan rekan-rekannya yang lain.to be continue.......

0 komentar

Post a Comment

komentar anda sangat berharga